2020-05-29 11:52:53

Kapan Panel Surya Ditemukan? – Photovoltaic serta Perkembangannya




Isu krisis energi merupakan salah satu dari berbagai isu lingkungan yang sedang kita hadapi saat ini. Hal tersebut mengakibatkan timbulnya peristiwa perubahan iklim maupun pemanasan global.
Untuk itu, penggunaan energi alternatif saat ini sangatlah krusial. Negara-negara di seluruh dunia berkontribusi untuk meningkatkan penggunaan energi terbarukan dari tahun ke tahun, salah satunya energi surya yang digunakan secara massal dalam bentuk produk panel surya.
Namun, apakah kamu sudah tahu sejak kapan pertama kali teknologi panel surya ditemukan? Berikut ini akan dibahas penemuan serta berbagai perkembangan teknologi sel surya dari masa ke masa.

Penemuan Pertama Teknologi Photovoltaic


Dibalik setiap teknologi, pasti ada seseorang yang pertama kali tidak sengaja menemukannya. Teknologi panel surya dikenal memiliki sebuah efek yang disebut efek fotovoltaik. Efek fotovoltaik ditemukan pada abad ke-18, tepatnya pada tahun 1839 oleh seorang ahli fisika asal Perancis bernama Alexandre Edmund Bacquerel.
Awalnya, efek fotovoltaik ini dicetuskan oleh Edmund Becquerel melalui percobaan penyinaran dua elektroda menggunakan berbagai spektrum cahaya. Kata photovoltaic merupakan gabungan dari dua istilah, yaitu photo atau cahaya, dan voltaic atau tegangan listrik. Arti photovoltaic merupakan proses pembentukan energi listrik dari energi cahaya.
Penemuan tersebut kemudian dikembangkan oleh Willoughby Smith. Penelitian tersebut mendapatkan hasil bahwa unsur selenium ternyata memiliki potensi photovoltaic yang bagus.
Beliau pertama kali mempublikasikan penemuannya dalam tulisan yang berjudul Effect of Light on Selenium during The Passage of an Electric Current, atau dalam bahasa Indonesia berjudul “Pengaruh Cahaya pada Selenium selama Perjalanan Arus Listrik”. Tulisan tersebut dipublikasikan dalam Nature pada tanggal 20 Februari 1873.

Penemuan Panel Surya Pertama


Beberapa tokoh lainnya juga melakukan berbagai cara untuk menyempurnakan teknologi photovoltaic ini. Sekitar setengah abad setelah itu, pada tahun 1876, seorang guru bernama William Grylls Adam dan muridnya Richards Evans Day juga memperkuat penelitian Alexandre Edmund Becquerel yang mengemukakan bahwa di dunia ini terdapat benda material padat, yakni selenium yang dapat menghasilkan energi listrik apabila selenium terkena sinar tertentu.
Kedua tokoh tersebut mendemonstrasikan efek fotovoltaik pada sambungan material platinum dan selenium. Meski hanya menghasilkan energi listrik dalam jumlah sedikit, namun percobaan ini sekaligus membuktikan bahwa energi listrik dapat dihasilkan dari energi cahaya.
Beberapa tahun kemudian di 1883, Charles Fritts dari New York menciptakan panel surya pertama berbasis selenium dibalut dengan lapisan tipis emas. Faktanya, panel surya buatannya tercatat memiliki efisiensi kurang dari 1%. Artinya, produk tersebut belum bisa dikatakan efisien untuk diaplikasikan dalam skala besar.

Penyempurnaan Panel Surya


Teknologi panel surya berhasil dikembangkan pada tahun 1941 oleh seorang peneliti bernama Russel Ohl. Menurut ilmuwan asal Amerika tersebut, sebuah panel surya dapat menghasilkan listrik apabila ditambahkan bahan semikondultor di dalamnya, contohnya seperti silicon. Ketika silicon berkontak langsung dengan cahaya, maka dapat menimbulkan reaksi yang menghasilkan energi listrik.
Russel Ohl dikenal sebagai orang pertama yang menemukan sekaligus mematenkan teknologi panel surya atau solar cell. Faktanya, teknologi panel surya buatannya masih digunakan sampai sekarang, karena materi yang terkandung di dalamnya efisien untuk memproduksi energi listrik.

Masa Munculnya Industri Panel Surya


Teknologi panel surya terbaru yang kita pakai sekarang, diciptakan pada tahun 1954 oleh Bell Laboratories. Beberapa peneliti dibalik penemuan ini adalah Daryl Chapin, Calvin Souther Fuller, dan Gerald Pearson. Produknya dianggap sebagai perangkat praktis pertama yang dapat mengubah energi matahari menjadi listrik.
Namun, panel surya ini dianggap sangat mahal bagi masyarakat pada masa itu. Untuk memecahkan masalah tersebut, pada tahun 1973, University of Delaware menciptakan suatu bangunan panel surya pertama yang disebut Solar One. Uniknya, bangunan tersebut tidak menggunakan panel surya, tetapi mengintegrasikan cahaya matahari langsung ke dalam atap dengan mengombinasikannya dengan tenaga termal.
Debut Solar One ini membuat pemerintah Amerika Serikat mulai melihat energi matahari sebagai pengganti atas masalah krisis energi yang melanda dunia. Pembuatan panel surya pun perlu dilakukan dengan harga yang lebih terjangkau. Oleh karena itu, pemerintah Amerika Serikat memfasilitasi berbagai penelitian demi menghasilkan inovasi tersebut. Disinilah era panel surya perlahan bergerak ke munculnya industri-industri panel surya berbasis silicon.

Saat ini, teknologi panel surya sudah banyak digunakan oleh berbagai sektor, seperti perumahan, gedung perkantoran, hotel, industri, maupun resort. Di Indonesia sendiri, sudah banyak juga komunitas serta asosiasi yang melakukan gerakan memberantas krisis iklim dengan menggencarkan penggunaan energi surya.
Wah, kita juga jangan sampai ketinggalan untuk mengikuti gerakan ini, serta mulai menerapkan penggunakan energi bersih untuk masa depan hidup kita yang lebih baik, ya.


By: Atikah Amaliadanti